Komponen Kebugaran Jasmani

Kebugaran jasmani terdiri atas beberapa komponen. Mengetahui dan memahami komponen kebugaran jasmani sangatlah penting, karena komponen tersebut penentu baik buruknya kondisi fisik atau tingkat kebugaran jasmani seseorang. Menurut Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Tahun 2003, menjelaskan unsur-unsur kebugaran jasmani atau kondisi fisik ada sepuluh komponen, yaitu: (1) daya tahan, (2) kekuatan otot,   (3)   tenaga   ledak   otot,   (4)   kecepatan,   (5)   daya   lentur,   (6) ketangkasan, (7) koordinasi, (8) keseimbangan,   (9) ketepatan, (10) kecepatan reaksi.
1)  Daya tahan
Daya tahan adalah komponen kubugaran jasmani yang sangat penting. Daya tahan sendiri dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Daya Tahan Umum (General endurance), adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung, paru-paru dan sistem peredaran darahnya secara efektif dan efisiensi untuk menjalankan kerja otot dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama.
b)  Daya   Tahan   Otot   (Local   Endurance),   adalah   kemampuan seseorang dalam menggunakan ototnya untuk berkontraksi secara terus menerus dalam waktu relatif lama serta dengan beban tertentu (M. Sajoto, 1988 : 16). Sedangkan Djoko Pekik Irianto (2004:        35)   mengartikan   bahwa,   “daya   tahan   otot   adalah kemampuan sekelompok otot melakukan serangkaian kerja dalam waktu lama”.
Jadi dapat ditarik kesimpulan dari keduanya yaitu daya tahan adalah  kualitas  komponen  jantung  dan  otot  untuk  melaksanakan kerja dalam waktu yang cukup lama.

2)  Kekuatan otot

Kekuatan otot adalah kemampuan otot atau sekelompok otot untuk melakukan kerja dengan dengan menahan beban yang diangkatnya (Mochamad Sajoto, 1988: 45). Menurut Djoko Pekik Irianto (2004: 35) bahwa, “kekuatan otot adalah kemampuan sekelompok otot melawan beban dalam satu usaha”. Kekuatan otot adalah kemampuan otot-otot untuk menggunakan tenaga maksimal atau mendekati maksimal untuk mengangkat beban (Kravitz, 2001:6).
Dari beberapa pendapat ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa kekuatan otot adalah kemampuan sekelompok otot dalam melakukan kerja  atau  melawan  beban  untuk  menggunakan  tenaga  maksimal dalam satu usaha.
3)  Tenaga ledak otot

Tenaga ledak otot adalah kemampuan otot atau sekelompok otot melakukan  kerja  secara  eksplosif  (Dangsina  Moeloek,  1984:  7). Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa daya ledak (power) = kekuatan (force) x kecepatan (velocity). Seperti dalam lompat tinggi, tolak peluru serta gerak lain yang bersifat explosive (M. Sajoto, 1988 : 17).
Komponen Kebugaran Jasmani
4)  Kecepatan

Menurut Mochamad Sajoto (1988: 58) bahwa, “kecepatan sebagai kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan berkesinambungan, dalam bentuk yang sama dalam waktu sesingkat-singkatnya”.

5)  Daya lentur (Kelentukan)

Kelentukan adalah kemampuan persendian, ligamen, dan tendo di sekitar persendian, karena apabila seseorang mengalami kurang gerak dalam persendiannya dapat menimbulkan gangguan gerak dan mudah   menimbulkan   cedera   (Mochamad   Sajoto,   1988:   51). Sedangkan Dangsina Moeloek (1984: 9) berpendapat bahwa, “Kelenturan menyatakan kemungkinan gerak maksimal yang dapat dilakukan  oleh  suatu  persendian  jadi  meliputi  hubungan  antara bentuk  persendian  (tulang  yang  berbentuk  sendi),  otot,  tendo, ligamen, dan sekeliling persendian.”
Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan daya lentur atau kelentukan adalah kinerja otot atau persendian untuk memaksimalkan kerja agar dapat menjadikan pekerjaan lebih efektif.
6)  Ketangkasan atau kelincahan

Ketangkasan adalah kemampuan mengubah secara cepat arah tubuh  atau  bagian  tubuh  tanpa  gangguan  pada  keseimbangan. (Dansina Moeloek, 1984: 8). Seseorang akan mampu merubah satu posisi yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang baik, berarti kelincahan baik. Menurut Mochamad Sajoto (1988: 59) kelincahan merupakan kemampuan seseorang dalam merubah arah dari posisi satu ke suatu posisi yang berbeda dengan kecepatan tinggi dan koordinasi yang baik.

7)  Koordinasi

Koordinasi  menyatakan  hubungan  harmonis  berbagai  faktor yang terjadi pada suatu gerakan. Misalnya dalam olahraga tenis, seseorang pemain akan kelihatan mempunyai kordinasi yang baik, bila dapat bergerak kearah bola sambil mengayunkan raket, kemudian memukul dengan teknik yang benar (Dangsina Moeloek, 1984: 11). Sedangkan Mochamad Sajoto (1988, 54) mengartikan bahwa, “koordinasi dengan kemampuan untuk menyatukan berbagai sistem saraf gerak yang terpisah ke dalam satu pola gerak yang efisien”.
Dari pendapat ahli di atas dapat ditarik kesimpulan koordinasi adalah kemampuan tubuh untuk menyatukan sistem saraf gerak dan mengharmoniskan dari beberapa gerakan untuk melaksanakan gerakan.
8)  Keseimbangan

Mochamad  Sajoto  (1988:  58)  berpendapat  bahwa, “keseimbangan sebagai kemampuan seseorang mengendalikan organ- organ saraf ototnya, selama melakukan gerak-gerak yang cepat, dengan perubahan letak titik-titik berat badan yang cepat pula, baik dalam keadaan statis maupun lebih-lebih dalam gerak dinamis”. Sedangkan Dangsina Moeloek (1984: 11) berpendapat bahwa
“Keseimbangan   adalah   kemampuan   mempertahankan   sikap tubuh yang tepat pada saat melakukan gerakan. Bergantung pada kemampuan intregasi antara kerja indera penglihatan (kanalis semisirkularis) pada telinga dan reseptor pada otot.yang diperlukan tidak hanya pada olahraga tetapi dalam kehidupan sehari-hari.



Dari pendapat ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keseimbangan adalah kemampuan manusia dalam mempertahankan sikap tubuh dalam bergerak cepat dengan perubahan titik-titik badan yang berubah dalam keadaan yang statis maupun dinamis.
9)  Ketepatan

Menurut  Mochamad  Sajoto  (1988:  59)  bahwa,  “ketepatan sebagai kemampuan seseorang dalam mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran”.
10) Kecepatan reaksi

Kecepatan  Reaksi  adalah  waktu  tersingkat  yang  dibutuhkan untuk memberi jawaban kinetis setelah menerima suatu rancangan. Hal ini berhubungan serta dengan waktu refleks, waktu gerakan, dan waktu respon (Dangsina Moeloek, 1984: 10).

Dari  kesepuluh  komponen  kebugaran  jasmani  diatas,  tidaklah berarti seseorang harus dapat mengembangkan secara keseluruhan. Tiap- tiap manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, karena kemampuan seseorang dipengaruhi oleh banyak hal, seperti keturunan, jenis kelamin, lingkungan, aktivitas latihan, struktur anatomi dan lain- lain, dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa komponen tersebut sangat berbeda perkembangannya antara individu yang satu dengan yang lain.